Sabtu, 24 November 2012

Rangsangan Pemijahan dengan Penyuntikan Hormon Pada Ikan Lele


Rangsangan Pemijahan dengan Penyuntikan Hormon Pada Ikan Lele

      Kebutuhan benih lele yang sangat besar tidak mungkin dapat dicukupi hanya oleh induk-induk
yang memijah secara alami. Penyuntikan hormon mutlak diperlukan.   Hormon alamiah bisa disiapkan
dari kelenjar hipofisa lele atau dari ikan mas. Hormon buatan/sintesis adalah hormon buatan pabrik.
Beberapa jenis hormon sintesis tersebut misalnya Ovaprim, HCG, dan LHRH. Hormon Ovaprim relatif
mudah diperoleh karena sudah dijual umum seperti di toko perikanan di beberapa kota besar.
HCG sebenarnya merupakan hormon untuk manusia sehingga hanya dapat diperoleh bila disertai resep dokter, sedangkan LHRH tergolong agak sulit diperoleh.

1. Penyuntikan hormon alamiah (hipofisa)
    Hormon ini diambilkan dari kelenjar hipofisa yang terletak di bagian bawah otak kecil. Setiap ikan
(juga makhluk bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak
kecil.
    Untuk penyuntikan, diperlukan kelenjar hipofisa yang diambil dari donor, sedangkan
penerimanya disebut resipien. Sebagai donor dapat dipilihkan lele, ikan mas (tombro, karper,
Cyprinus carpio), atau lele lokal (Clarias batrachus). Hormon yang berasal dari ikan jenis lain tidak
cocok. Karena hormon untuk keperluan penyuntikan ini diambil dari hipofisa maka tindakan
penyuntikan untuk merangsang pemijahan ini disebut juga hipofisasi.
a. Dosis hipofisa
    Banyaknya kelenjar hipofisa yang perlu disuntikkan kepada induk lele adalah 3 dosis. Artinya
ikan yang beratnya 0,5 kg, misalnya, memerlukan kelenjar hipofisa yang berasal dari donor yang
berat badannya 1,5 kg. Ikan donor seberat 1,5 kg itu dapat terdiri dari 3 ekor yang masing-masing
beratnya 0,5 kg atau 2 ekor yang beratnya 1 kg dan 0,5 kg atau dapat juga dipakai seekor yang
beratnya 1,5 kg.
    Sebagai donor sebaiknya dipilihkan ikan yang sudah dewasa, jantan maupun betina sama
saja. Apabila dipilihkan ikan belum dewasa kadar hormon dalam hipofisanya sedikit.
b. Pengambilan hipofisa dan pembuatan ekstrak
   Cara mengambil kelenjar hipofisa dari ikan donor adalah sebagai berikut :
   1) Siapkan ikan (lele/mas) yang akan dijadikan donor.
   2) Pegang bagian kepalanya bila licin, badannya dapat dibungkus dengan lap. Sementara
       bagian kepala dipegang, bagian badan diletakan diatas talenen. Kepala ikan dipotong
       dibagian belakang tutup insangnya hingga kepalanya putus.
   3) Setelah terpotong, sisir tulang kepalanya di atas mata hingga tulang tengkoraknya
       terbuka dan otaknya kelihatan.
   4) Singkap otaknya menggunakan pinset, tepat dibagian bawah otak akan terlihat kelenjar
       hipofisa berwarna putih sebesar butiran kacang hijau.
   5) Dengan tetap menggunakan pinset, kelenjar hipofisa diangkat dan diletakan ke dalam
       cawan yang bersih untuk dicuci dengan aquades hingga darah yang melekat hilang. Cara
       membersihkannya dengan disemprot aquades menggunakan pipet.
   6) Setelah butir kelenjar hipofisa bersih, lalu masukan ke dalam tabung penggerus (dapat
       menggunakan kantong plastik kecil atau gelas). Selanjutnya kelenjar hipofisa digerus atau
       dipencet hingga hancur.
   7) Encerkan kelenjar hipofisa tersebut dengan 1-1,5 ml aquades atau larutan garam
       fisiologis. Larutan garam fisiologis atau sering pula disebut cairan infus yang dapat
       diperoleh di apotek (dijual bebas). Dengan demikian, hormon GSH yang terkandung
       didalam hipofisa akan terlarut dalam cairan.
8) Larutan tersebut diendapkan beberapa menit hingga kotoran tampak mengendap
   didasar. Cairan dibagian atas diambil dengan tabung injeksi (spuit) untuk disuntikan pada
   ikan.
    c. Penyuntikan ekstrak hipofisa
    Induk sebagai resipien yang telah dipersiapkan sebelumnya, diambil dari dalam hapa. Induk
tersebut dipegang dengan bantuan penyerok dari jaring supaya tidak licin. Hormon didalam spuit
disuntikan didekat sirip punggung kedalam daging induk (intramuscular). Setelah disuntik, induk
betina dimasukan kedalam kolam pemijahan yang telah dipersiapkan. Biarkan lele dalam
keadaan tenang.
2. Penyuntikan hormon buatan
    Hormon sintesis (buatan) kini dapat dibeli di toko-toko obat perikanan, yaitu hormon yang
disebut Ovaprim. Ovaprim berbentuk cairan yang disimpan dalam ampul. Satu ampul berisi 10 ml.
Dosis pemakaiannya 0,3-0,5 ml untuk lele yang beratnya 1 kg. induk lele seberat 0,5 kg berarti
memerlukan hormon ovaprim 0,15-0,25 ml.
    Penyuntikan menggunakan hormon Ovaprim sangat praktis sebab sudah berupa larutan sehingga
tinggal disuntikan saja, hormon sisa di dalam ampul dapat disimpan di tempat yang tidak terkena
sinar matahari langsung (suhu kamar), dalam ruang ini, Ovaprim tahan hingga 3-4 bulan.
Urutan pemijahan lele dengan hormon buatan adalah sebagai berikut :
a. Siapkan kolam pemijahan
    1. Keringkan dan bersihkan kolam/bak yang hendak digunakan untuk pemijahan.
    2. Cuci dan jemur kakaban dengan jumlah cukup menutupi 75% dasar kolam.
    3. Pasang kakaban di dasar kolam/bak, letakan kakaban itu 5-10 cm diatas dasar kolam.
       Gunakan bata merah yang sudah dicuci bersih sebagai pengganjalnya. Diatasnya juga
       ditindih dengan bata agar kakaban tidak mudah bergeser.
    4. Menjelang dilakukan penyuntikan, kolam tersebut diisi dengan air sampai kakaban
       terendam air 5 cm-10 cm.
b. Seleksi induk lele betina dan jantan yang siap memijah
    1. Pada pagi hari, tangkap induk lele betina dan jantan.
    2. Pilih induk betina yang matang telur, perutnya besar dan lunak, tetapi kalau diurut tidak
       dapat keluar telurnya.
    3. Pilih induk jantan yang sehat, tidak cacat, tidak berpenyakit. Lele jantan terlihat dari alat
       kelaminnya (perut tetap langsing) kalau diurut juga tidak dapat mengeluarkan sperma.
       Oleh karena itu, lele disuntik dengan hormon.
    4. Pisahkan induk jantan dan betina didalam wadah atau hapa tersendiri sambil menunggu
       saat disuntik.
c. Siapkan alat dan hormon Ovaprim untuk disuntikan
    Gunakan alat suntik yang sudah dibersihkan/dicuci dengan air panas atau gunakan alat yang
baru.
d. Timbang induk betina dan tentukan dosis ovaprim
   1) Induk yang beratnya 1 kg, dosis hormon ovaprim 0,3-0,5 cc. bila beratnya 0,5 kg maka
       dosis yang diperlukan setengahnya, yakni 0,15-0,25 cc ( sesuai petunjuk pada wadah
       hormon tersebut).
   2) Sedot dengan injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. setelah
       itu, sedot lagi dengan jarum yang sama aquades atau larutan garam fisiologis 0.7%
       sebanyak 0,5 ml yang juga untuk mengencerkan hormon tadi.

e. Cara penyuntikan
   1) Seorang membantu memegang ikan lele yang hendak disuntik ( ikan betina lebih dulu)
       dengan satu tangan lagi memegang pangkal ekor ikan. Letakan ikan tersebut sambil terus
       dipegang diatas meja yang sudah disiapkan dan diberi alas handuk/lap bersih.
   2) Seorang lainnya menyuntikan hormon yang sudah disiapkan kedalam daging lele
       dibagian punggung. Sebanyak setengah dosis disebelah kiri sirip punggung dan stengah
       dosis lagi disebelah kanan.
   3) Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah hormon didorong masuk, jarum dicabut,
       lalu bekas suntikan tersebut ditekan/ditutup dengan jari beberapa saat agar hormon
       tidak keluar.
   4) Setelah disuntik, ikan jantan dan betina dimasukan kedalam kolam pemijahan yang
       sudah dipersiapkan sebelumnya.
f. Siapkan kolam penetasan telur
       1) Kolam penetasan telur dapat berupa kolam tanah yang luasnya 25-100 m2. Beberapa
            hari sebelumnya, kolam mini sudah dikeringkan/dijemur dan dibersihkan dari segala
            hama. Setelah itu, kolam diairi sedalam 10-20 cm tiga hari sebelum digunakan.
       2) Kolam penetasan telur dapat juga berupa kolam berlapis plastik, ukuran lebar 2-3 m
            dan panjang 8-10 m. Selama dua hari sebelum digunakan, kolam telah dibersihkan,
            lalu diisi air dari sumur pompa yang bebas hama. Penggunaan air langsung dari
            sungai kurang baik untuk penetesan telur, karena mengeluarkan jamur atau bakteri
            yang menyerang telur.
    Pengalaman dari pembudidaya, air untuk pembenihan disediakan dari sumur bor yang
disimpan didalam tandon besar ( 3-5 m3). Air di tandon tersebut ditebari garam kasar ( tanpa
iodium ) sebanyak 100 gr setiap 1 m3 air, lalu diaduk dan diendapkan. Ternyata dengan perlakuan
tersebut, penetesan dan pemeliharaan benih lancar serta tak pernah menderita kematian karena
jamur dan bakteri.

Sumber : pusluh.kkp.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar